Anime

Dibalik MAPPA dan Attack on Titan Final Season

Setelah penantian selama beberapa tahun akhirnya musim ke-4 Attack on Titan (AoT) ditayangkan pada tanggal 7 Desember 2020 dengan judul Attack on Titan Final Season.

Hadirnya season ini mendapatkan berbagai respon positif dari berbagai kalangan. Namun akhir-akhir ini tepatnya setelah episode kelima anime ini tayang muncul orang-orang yang menghujat kualitas dari season 4 anime Attack on Titan.

AWAL MULA

Para anti-fans (orang yang menjelek-jelekkan) muncul setelah episode kelima anime ini tayang. Mereka mengeluhkan soundtrack yang dipakai tidak sesuai dan merusak anime tersebut.

Akibatnya sutradara episode kelima dengan akun Twitter @teriteri5 dikeroyok oleh Netizen dengan melayangkan berbagai komentar negatif.

Tidak hanya itu di episode ke-enam yang baru tayang kemarin, staff produksi kembali mendapatkan hujatan karena memakai CGI.

Bahkan @teriteri5 yang tidak terlibat dalam produksi episode 6 juga mendapatkan hujatan.

KENAPA MAPPA

Seperti yang kita ketahui bahwa season ini tidak lagi dikerjakan oleh WIT Studio melainkan MAPPA yang sebelumnya mengerjakan anime seperti Jujutsu Kaisen dan Dororo.

Kenapa WIT Studio saja yang mengerjakan anime ini?, Jawabannya karena WIT Studio menolak tawaran untuk mengerjakan anime ini.

Bukan hanya WIT Studio saja yang menolak untuk mengerjakan anime ini tetapi hampir semua studio. Namun MAPPA menyatakan bahwa mereka sanggup membuat anime ini.

Selama wawancara Newtype baru-baru ini, Kensuke Tateishi mengatakan WIT Studio setuju untuk membagikan obor selama produksi musim ketiga.

“Ceritanya telah mencapai titik kritis, dan sebagai pencipta, kami ingin meningkatkan segalanya lebih dari yang kami miliki hingga sekarang. Kami ingin mencari studio baru, tetapi kebanyakan dari mereka tidak bagus,” katanya.

 

“Banyak dari mereka mengatakan mereka tidak bisa mengambil beban kerja,” lanjut Tateishi.

 

 “Hanya ada satu studio yang mengatakan, ‘akan kita pikirkan’ dan itu MAPPA. WIT juga merasa nyaman dengan pengambilan MAPPA.”

Hal ini disebabkan karena Komite Produksi menginginkan anime ini rilis pada akhir tahun 2020 untuk meningkatkan penjualan manga nya. Karena jika di undur manga Attack on Titan akan kehilangan reputasi nya apalagi manga ini sudah hampir tamat.

Kenapa banyak studio yang menolak?

Bagi para produsen anime merupakan sebuah bisnis. Selain itu keterbatasan waktu pengerjaan yang terbilang singkat juga menjadi alasan nya.

Biasanya sebuah anime dengan 12 episode membutuhkan waktu pengerjaan setidaknya 1.5 tahun. Sedangkan Attack on Titan yang dikabarkan akan memiliki 16 episode harus selesai dalam waktu setahun.

Jika MAPPA diberikan waktu selama 2 atau 3 tahun mungkin mereka bisa memuaskan fandom di seluruh dunia.

Kenapa tidak di undur saja?

Masalahnya jika anime ini di undur maka Attack on Titan tidak akan mendapatkan adaptasi anime lagi.

Pilihannya hanya terima atau tidak ada season lanjutan, MAPPA pun setuju agar para fans bisa melihat akhir dari seri anime ini.

Kenapa memakai CGI?

Seperti yang saya bahas diatas MAPPA diberikan deadline yang gila, karena mereka harus menyelesaikan anime dalam waktu satu tahun.

Jika menggunakan teknik hand drawn maka akan memakan waktu yang lama dan akhirnya MAPPA tidak bisa mengejar deadline yang diberikan.

Sebagai gambaran, jika pembuatan anime dilakukan dengan teknik hand drawn, maka dibutuhkan gambar sekitar 5000-10000 dalam satu episode, apalagi anime Attack on Titan bergenre action bisa saja membutuhkan gambar lebih daripada di atas.

Sebagai contoh, scene Levi vs Zeke yang berdurasi beberapa detik membutuhkan banyak frame dan menghabiskan waktu hingga empat bulan menghabiskan adegan cincang daging Beast Titan.

Kejadian yang dialami MAPPA merupakan korban dari industri anime yang hanya mementingkan bisnis ketimbang kepuasan penggemar.

Akibatnya, kualitas yang diberikan tidak sesuai ekspektasi sehingga menjadikan MAPPA dihujat di media sosial yang membuat staf mereka menutup hingga menonaktifkan akun mereka.

Padahal apa yang dilakukan MAPPA merupakan tindakan realistis untuk dilakukan di kondisi sekarang terlebih mereka memiliki kelebihan dalam menggunakan CGI dalam anime buatannya.

Mau studionya sekelas Pierrot, Kyoto Animation, maupun Bones, kalau diberi deadline kayak tadi pasti ujung-ujungnya pake CGI buat mempersingkat waktu.

Masalah CGI sebenarnya hanya sebuah peristiwa culture shock yang dialami fandom karena tidak terbiasa dengan style anime seperti ini. Masih banyak lho anime keren yang pake full CGI salah satunya seperti Beastars. Tinggal menyesuaikan aja kok nanti juga terbiasa dengan anime CGI.

Sumber: Comicbook,Mojok.co,Comicbook (2)

Artikel terkait

Satu komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button